Photobucket
Loading
bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online
Mohon beri masukan, saran, dan kritikan mengenai isi kontens posting blog ini, dan kalau diperlukan diharapkan kerjasama Anda dalam mengisi kontens posting blog ini.

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Dan diharapkan untuk daftarkan diri menjadi bagian dari NetworkedBlogs atau Follow Us
Admin - waroengpakde

Showing posts with label Karya Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Karya Ilmiah. Show all posts

Thursday, 15 April 2010

Studi Perbandingan Prestasi Belajar Akuntansi Antara Siswa Yang Di Beri Pelajaran Dengan Metode Laboratorium Dan Metode Ceramah Di SMA Harapan Mandiri

Mata pelajaran akuntansi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Yang sesuai dengan fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi. Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan sutu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajer / manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.

Dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan semakin kompleksnya masalah perusahaan yang didorong kemajuan teknologi, bertambahnya peraturan pemerintah terhadap kegiatan perusahaan, maka para Akuntan dituntut untuk mengkhususkan keahliannya dalam bidang akuntansi. Bidang khusus akuntansi itu, apa saja? Baik, mari kita lihat bidang-bidang khusus akuntansi berikut ini, seperti : Akuntansi Keuangan, Akuntansi Pemeriksaan, Akuntansi Manajemen, Akuntansi Biaya, Akuntansi Perpajakan, Akuntansi Anggaran, Akuntansi Pendidikan dan Akuntansi Pemerintahaan.

Mata pelajaran akuntansi telah diberikan mulai dari kelas xi sampai kelas xii dan bahkan sampai ke jenjang yang lebih tinggi misalnya perguruan tinggi atau universitas dengan maksud agar siswa terlibat dalam proses belajar mengajar secara aktif dan kreatif.

Selain itu mata pelajaran akuntansi juga memenuhi kebutuhan dan minat siswa, baik melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi maupun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun pengajaran akuntansi di SMA bertujuan agar siswa menguasai konsep-konsep dasar Akuntansi dan saling keterkaitannya sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga dapat membuat output laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan neraca pada suatu perusahaan atau organisasi lainnya .

Menurut kurikulum SMA adalah sebagai berikut :
Pengajaran Akuntansi juga mengembangkan sikap, nilai dan ketrampilan antara lain:
1. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan untuk dapat memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep dasar Akuntansi
2. Mengembangkan sikap dan nilai.
3. Menanamkan sikap ilmiah kepada siswa dan melatih siswa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya secara ilmiah.
4. Menyadarkan siswa akan pentingnya digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis.
5. Memberikan pengetahuan dasar pada siswa untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari khususnya di dunia bisnis.
6. Mengembangkan kecerdasan dan kreatifitas siswa dalam menyusun suatu laporan keuangan secara komprehensif.

Bagi siswa yang masih duduk di bangku sekolah mau tidak mau harus belajar. Bahkan bagi siapapun yang ingin menambah ilmunya, menambah pengetahuannya, akan melakukan kegiatan belajar. Belajar adalah kegiatan utama, kegiatan penting, (meski sebagian ada yang menganggap sebagai kegiatan sampingan).
1. Bagi siswa, tentu secara lisan akan mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan utamanya. Tetapi kenyataannya ada diantara mereka yang mengatakan demikian itu, kegiatan belajarnya lebih banyak ketinggal dibanding dengan kegiatan lainnya. Ya... tentu kegiatan lainnya lebih mengasyikkan dibanding dengan belajar. Belajar satu jam serasa sudah belajar semalam suntuk, bermain selama 5 jam terasa baru lima menit saja.
2. Bagi mahasiswa, banyak pula mahasiswa yang menyibukkan diri ke dalam berbagai aktivitas demi untuk mendapatkan pengalaman, sampai-sampai lupa akan tugas belajarnya. Bagi mahasiswa yang sambil kerja (apa kerja sambil kuliah?), mereka kesulitan untuk mengalokasikan waktu belajarnya. Mereka takut pekerjaannya berantakan, akan tetapi takut pula jika nilai kuliahnya jelek.


Peran Guru Dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar keberhasilannya sangat ditentukan oleh adanya kerjasama antar guru dan murid, sebenarnya dalam proses belajar mengajar, merupakan interaksi kerjasama antar guru dan murid. Sering kita dengar, bahwa metode apapun yang dipakai oleh guru namun keberhasilanya lebih banyak ditentukan oleh guru dan murid. Guru yang pandai menggunakan metode tidak akan mencapai hasil pengajaran yang diinginkan kalau muridnya tidak mempunyai kemampuan belajar, tetapi sebaliknya guru akan memperoleh hasil pengajaran yang efektif jika guru dan muridnya sama mempunyai kemauan untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Sepintas lalu pendapat tersebut ada benarnya, sebab dalam proses belajar mengajar pasti didalamnya mengandung unsur metode sebagai alat pendekatnya dan metode tersebut cukup memberikan arti.

Maka dari itu guru dituntut untuk mempunyai kemampuan memilih metode yang tepat serta mampu menguasai bagaimana menggunakannya untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut Amir Dain Indra Kusuma dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Pendidikan mengatakan bahwa : Guru mempunyai dua fungsi yaitu mendidik dan mengajar. Kedua tugas tersebut secara praktis tidak bisa dipisahkan, tapi secara teoritis pengertian mengajar tidak sama dengan mendidik. Mengajar adalah menyerahkan atau menyampaikan ilmu pengetahuan ataupun ketrampilan dan lain sebagainya kepada orang lain dengan menggunakan cara-cara tertentu, sehingga pengetahuan ataupun ketrampilan dan sebagainya itu dapat menjadi milik orang tersebut, sedang mendidik adalah terletak pada tujuan pendidik itu, berusaha untuk membawa anak kepada nilai-nilai luhur, kepada norma-norma susila (Kusuma, 28).
Dari pendapat tersebut, jelaslah bahwa mengajar dan mendidik merupakan dua pengertian yang tidak dapat dipisahkan, hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan manusia seutuhnya yang berdasarkan Pancasila.
Mendidik disamping sebagai ilmu juga sebagai suatu seni, yang dimaksud adalah keahlian di dalam menyampaikan materi pengajaran. Metode mengajar itu sendiri mempunyai kedudukan sebagai berikut :
1. Salah satu cara atau alat untuk mencapai tujuan pengajaran.
2. Merupakan salah satu komponen dalam proses mngajar.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan :
1. Mata pelajaran akuntansi terkandung nilai-nilai luhur didalammya dan mempunyai peran yang sangat urgen dalam pendidikan nasional. Sehingga perlu dicari pendekatan yang efektif dalam memberikan pelajaran akuntansi agar siswa mengerti dan memahami sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi lagi.
2. Pendidikan dan pengajaran banyak ditentukan oleh faktor guru, hal tersebut erat hubungannya dengan pemilihan dan penggunaan metode sebagai alat pendekatannya untuk mencapai tujuan pengajaran.

Metode belajar yang dibahas di sini adalah belajar khusus untuk Mata Pelajaran Akuntansi di tingkat SMU. Karena tujuan mata pelajaran tingkat SMA berbeda dengan mata pelajaran tingkat Perkuliahan, maka cara belajarpun juga berbeda.
Pada tingkat dasar (SMU), seperti mata pelajaran Akuntansi Dasar, siswa dituntut selain memahami pengetahuan siswa juga dituntut terampil melakukan penghitungan, pencatatan, atau bahkan melakukan pemecahan masalah. Jadi pada mata pelajaran tersebut, tahu saja tidak cukup. Anda harus terampil melakukan/mengerjakan sesuatu. Terampil, berarti Anda harus dapat mengerjakan pekerjaan secara cepat dan benar. Karena tujuan yang seperti ini maka dalam ujian jarang ditemui soal yang menanyakan definisi, nama metode, ataupun menanyakan cara /prosedur sesuatu. Kebanyakan soal ujian untuk mata pelajaran tersebut adalah kasus, latihan bahkan praktek akuntansi langsung. Siswa diminta melakukan penghitungan, pencatatan (proses akuntansi), pembuatan laporan, atau bahkan pembuatan keputusan.

Dari bermacam-macam metode yang perlu diadakan penelitian, metode mana yang dipandang paling efektif untuk menyampaikan suatu materi pelajaran. Sedang yang sering dipakai adalah metode ceramah dan metode laboratorium praktek langsung yang dalam hal ini usaha penulis untuk diketahui mana yang lebih efektif dari kedua metode tersebut.

Baca selengkapnya Waroeng PakDe Blog's: Karya Ilmiah

Sunday, 13 July 2008

PENGARUH MOTIVASI DAN METODE PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUTANSI PADA SISWA KELAS XII ILMU SOSIAL SMA HARAPAN MANDIRI MEDAN 2

1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, menyatakan, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU Sisdiknas : 2003).


Sekolah Menengah Atas (SMA) mempunyai tujuan yaitu menciptakan atau menyiapkan peserta didik agar mempunyai kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi. Salah satu usaha yang digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah meningkatkan prestasi belajar siswa.
Prestasi belajar merupakan tolok ukur yang utama untuk mengetahui keberhasilan belajar seseorang. Seorang yang prestasinya tinggi dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Prestasi belajar adalah tingkat pengetahuan sejauh mana anak terhadap materi yang diterima (Slameto, 1993:17)
Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah (Tu’u,2004:75). Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari diri siswa (faktor internal) maupun dari luar siswa (faktor eksternal). Faktor internal diantaranya adalah minat, bakat, motivasi, tingkat intelegensi. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah faktor metode pembelajaran dan lingkungan.

Salah satu faktor dari dalam diri siswa yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar adalah motivasi belajar.Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar (Sardiman, 2006:75). Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Seorang siswa yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya motivasi dalam belajarnya.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajar dengan senang karena didorong motivasi. Selama ini kebanyakan motivasi belajar akuntansi siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan, hal ini dapat dilihat dari kurangnya perhatian siswa dalam menerima pelajaran akuntansi di kelas. Selain itu masih ada siswa yang terlambat mengerjakan tugas, tidak memiliki kelengkapan belajar akuntansi misalnya: kalkulator, penggaris.

Sedangkan faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi belajar adalah faktor metode pembelajaran. Selain siswa, unsur terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru. Guru sebagai pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, moral maupun sosial dan untuk menjalankan peran tersebut seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. Seorang guru dalam menyampaikan materi perlu memilih metode mana yang sesuai dengan keadaan kelas atau siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Dengan variasi metode dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa (Slameto,2003:96)

Metode pembelajaran akuntansi adalah cara atau pendekatan yang dipergunakan dalam menyajikan atau menyampaikan materi pelajaran akuntansi. Mata pelajaran akuntansi adalah mata pelajaran yang membutuhkan kasabaran, kecermatan, serta ketelitian. Untuk itu guru dituntut untuk tidak hanya menyampaikan materi secara lisan atau ceramah saja tetapi harus memilih metode yang dapat melatih siswa belajar, misalnya dengan diskusi, praktek komputer akuntansi, memperbanyak latihan mengerjakan soal. Selama ini guru di dalam menyampaikan materi pelajaran akuntansi dengan ceramah secara lisan dan dengan menjelaskan materi di papan tulis.

Selain faktor metode pembelajaran, faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor lingkungan.Lingkungan merupakan suatu komponen sistem yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan.Dalam penelitian ini kondisi lingkungan sekolah dan keluarga menjadi perhatian karena faktor ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sekolah adalah wahana kegiatan dan proses pendidikan berlangsung. Di sekolah nilai-nilai kehidupan ditumbuhkan dan dikembangkan. Oleh karena itu, sekolah menjadi wahana yang sangat dominan bagi pengaruh dan pembentukan sikap, perilaku, dan prestasi seorang siswa (Tu’u, 2004:18)
Lingkungan sekolah yang kondusif akan mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Lingkungan sekolah SMA Harapan Mandiri Medan yang letaknya sangat dekat dengan jalan raya menyebabkan proses kegiatan belajar mengajar tidak begitu terganggu selain itu buku pelajaran akuntansi yang tersedia di perpustakaan yang digunakan dalam pelajaran kurang lengkap.

Selain lingkungan sekolah, lingkungan keluarga juga berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Pengaruh pertama dan utama bagi kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan seseorang adalah keluarga. Banyak waktu dan kesempatan bagi anak untuk berjumpa dan berinteraksi dengan keluarga.Perjumpaan dan interaksi tersebut sangat besar pengaruhnya bagi perilaku dan prestasi seseorang (Tu’u,2004:16).
Seiring dengan perkembangan jaman, dalam kenyataannya tidak terasa telah terdapat pergeseran fungsi dan peranan orang tua terhadap pendidikan anaknya. Kebanyakan para orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya pada sekolah. Padahal seharusnya orang tua memberikan perhatian dan semangat belajar yang lebih, karena waktu di rumah lebih banyak daripada di sekolah.

Mata Pelajaran Akuntansi merupakan salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa jurusan IS. Penguasaan siswa terhadap mata pelajaran akuntansi dapat dilihat dari kemampuan dalam melakukan pembukuan. Sekolah Menengah Atas Harapan Mandiri Medan mempunyai harapan siswa jurusan Ilmu Sosial (IS) mampu menguasai mata pelajaran akuntansi tetapi yang menjadi kendala adalah mata pelajaran akuntansi dianggap sulit oleh siswa. Mata pelajaran Akuntansi yang diajarkan di SMA masih bersifat dasar yaitu siklus Akuntansi. Siklus akuntansi merupakan proses pencatatan, pengelompokkan, pengikhtisaran, serta penyusunan laporan keuangan baik di dalam perusahaan jasa, dagang maupun koperasi.

Dari hasil penelitian awal yang dilakukan di SMA Harapan Mandiri Medan menunjukkan bahwa nilai-nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran akuntansi belum mencapai hasil yang maksimal. Dari 150 siswa sebanyak 90 siswa tuntas dalam belajar dan masih ada 60 siswa belum tuntas.Standart Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang ditetapkan di SMA Harapan Mandiri Medan untuk mata pelajaran akuntansi yaitu 60.
Dari kenyataan tersebut dapat diindikasikan bahwa hasil belajar siswa belum cukup optimal. Hal itu dapat disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar .Faktor-faktor yng mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat berasal dari dalam diri siswa antara lain motivasi belajar, sedangkan faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa diantaranya adalah faktor metode pembelajaran dan faktor lingkungan.Yang termasuk lingkungan dalam penelitian ini adalah lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga. Atas dasar pemikiran di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Motivasi, Metode Pembelajaran, dan Lingkungan terhadap Prestasi Belajar Akuntansi pada Siswa Kelas XII Ilmu Sosial SMA Harapan Mandiri Medan”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah motivasi belajar akuntansi siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan?
2. Bagaimanakah metode pembelajaran yang digunakan guru akuntansi dalam pembelajaran pada siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan?
3. Bagaimanakah kondisi lingkungan sekolah siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan?
4. Bagaimanakah kondisi lingkungan keluarga siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan?
5. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar, metode pembelajaran, lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar akuntansi pada siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui motivasi belajar akuntansi siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan.
2. Untuk mengetahui metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran akuntansi pada siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan.
3. Untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan.
4. Untuk mengetahui kondisi lingkungan keluarga siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan.
5. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar, metode pembelajaran, lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar akuntansi pada siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapakan oleh peneliti dari pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat teoritis
a. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai masalah yang diteliti
b. Sebagai latihan dan pengalaman dalam mempraktekkan teori yang diterima dibangku kuliah
1.4.2 Manfaat praktis
a. Bagi siswa dapat menumbuhkan motivasi belajar yang positif terhadap mata pelajaran akuntansi
b. Bagi sekolah sebagai masukan dalam usaha meningkatkan kualitas peserta didik
c. Bagi guru sebagai masukan untuk dapat menentukan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar akuntansi siswanya
d. Bagi orang tua dapat menambah kesadaran untuk lebih memberikan dukungan dan motivasi terhadap pendidikan anak

1.5 Sistematika Penulisan Skripsi
Sistematika skripsi disusun sebagai berikut :
1. Bagian Pendahuluan Skripsi yang berisi tentang halaman judul, halaman pengesahan, ringkasan atau sari, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.
2. Bagian isi skripsi terdiri dari :
BAB 1 : Pendahuluan berisi manfaat penelitian

BAB II : Bab ini berisi tentang landasan teori yang membahas teori yang disajikan sebagai acuan penelitian untuk menggadakan penelitian

BAB III : Prosedur penelitian meliputi setting penelitian, prosedur penelitian

BAB IV : Laporan hasil penelitian yang mengguraikan hasil penelitian dan pembahasan

BAB V : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran

Bagian akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
Baca selengkapnya Waroeng PakDe Blog's: Karya Ilmiah

PENGARUH MOTIVASI DAN METODE PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUTANSI PADA SISWA KELAS XII ILMU SOSIAL SMA HARAPAN MANDIRI MANDIRI-1

PENGARUH MOTIVASI, METODE PEMBELAJARAN
DAN LINGKUNGAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS XII ILMU SOSIAL

Keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah metode yang digunakan guru dalam mengajar. Pada kenyataannya, dalam pembelajaran masih menggunakan metode konvensional, sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran dan prestasi belajar kurang memuaskan. Siswa dapat mencapai prestasi belajar yang maksimal bila seorang guru tepat dalam menerapkan metode mengajar. Untuk itu diperlukan suatu metode pembelajaran yang inovatif dan mampu meningkatkan keaktifan serta prestasi belajar siswa yaitu metode tutor sebaya dalam kelompok kecil. Dari hal ini, muncul permasalahan yaitu bagaimanakah efektifitas penerapan metodr tutor sebaya dalam kelompok kecil untuk meningkatkan prestasi belajar akuntansi pokok bahasan jurnal khusus perusahaan dagang pada siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan tahun ajaran 2007/2008?.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan tahun jaran 2007/2008 sebanyak kurang lebih 150 siswa yang terbagi dalam 3 kelas. Sampel ditentukan dengan teknik acak sampel sederhana, sehingga diperoleh 2 kelas sebagai sampel yaitu kelas XII IS 1 sebanyak 50 siswa sebagai kelompok eksperimen dan kelas XII IS 2 sebanyak 50 siswa sebagai kelompok kontrol. Variabel dalam penelitian ini ada 2 yaitu variabel bebas (X1) merupakan prestasi belajar pokok bahasan jurnal khusus perusahaan dagang pada siswa kelas XII IS SMA Harapan Mandiri Medan tahun ajaran 2007/2008 yang menerapkan metode tutor sebaya dalam kelompok kecil, dan variabel bebas (X2) merupakan prestasi belajar pokok bahasan jurnal khusus perusahan dagang pada siswa kelas XI IS SMA Harapan Mandiri Medan tahun ajaran 2007/2008 yang menerapkan metode konvensional. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan teknik eksperimen. Sedangkan alat pengambilan data menggunakan tes. Dalam penelitian ini ada 2 analisis data yaitu analisis data awal untuk memadankan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan uji normalitas, uji kesamaan dua varians dan uji kesamaan dua rata-rata, dan analisis tahap akhir untuk menguji hipotesis dengan rumus uji t (Independent Sample).
Hasil penelitian diperoleh thitung=2,186, sedangkan ttabel=1,99 dengan a= 5% dan dk = 39+39=78. Jadi thitung > ttabel sehingga hipotesis diterima. Hasil analisis uji t tes ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai prestasi belajar yang diperoleh kelompok eksperimen lebih baik dibandingkan dengan rata-rata nilai prestasi belajar yang diperoleh kelompok kontrol.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan tutor sebaya sebagai metode pembelajaran akuntansi npokok bahasan jurnal khusus perusahaan dagang ternyata lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Dari hasil penelitian ini, disarankan agar guru dan siswa mencoba menerapkan metode tutor sebaya dalam proses pembelajaran akuntansi.

Baca selengkapnya Waroeng PakDe Blog's: Karya Ilmiah

Penelitian Tindakan Kelas (bagian-2)

Bagaimana Melaksanakan PTK?
a. Siklus I
1. Tindakan I
Dengan melihat kasus Pak Anton, tindakan I adalah implementasi serangkaian kegiatan pembelajaran seperti yang telah direncanakan untuk mengatasi masalah. Karena penyebab pertanyaan Pak Anton yang sering tidak terjawab sudah diketahui, maka tindakan yang harus dilakukannya adalah :
1. Membuat pertanyaan secara jelas dan tidak terlampau panjang.
2. Pertanyaan ditujukan kepada seluruh siswa
3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dulu sebelum menjawab.


Dalam tahap pelaksanaan tindakan, guru berperan sebagai pengajar dan pengumpul data, baik melalui pengamatan langsung, maupun melalui telaah dokumen, bahkan juga melalui wawancara dengan siswa setelah pembelajaran selesai. Guru juga dapat meminta bantuan kolega guru lainnya untuk melakukan pengamatan selama guru melakukan tindakan perbaikan. Selama proses belajar akan dilakukan observasi menyangkut aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Antara lain, bagaimana kualitas jawaban siswa dan apakah motivasi siswa menjawab pertanyaan guru meningkat?. Apakah hasil belajar siswa meningkat?

2. Refleksi I
Data yang dikumpulkan selama tindakan berlangsung kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil analisis ini guru melakukan refleksi, yaitu guru mencoba merenungkan atau mengingat dan menghubung-hubungkan kejadian dalam interaksi kelas, mengapa itu terjadi, dan bagaimana hasilnya. Hasil refleksi akan membuat guru menyadari tingkat keberhasilan dan kegagalan yang dicapainya dalam tindakan perbaikan. Hasil refleksi ini merupakan masukan bagi guru dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan perbaikan berikutnya. Refleksi I dapat dilakukan oleh guru bersama siswa bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan tindakan pada siklus I dengan jalan mengidentifikasi baik kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh maupun kekurangan-kekurangan atau hambatanhambatan yang masih dihadapi. Kemudian, setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak hasil refleksi tersebut digunakan untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus II.

b. Siklus II
1. Perencanaan
Refleksi yang dilakukan pada akhir siklus I bertujuan untuk mengidentifikasi baik kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh maupun kekurangankekurangan atau hambatan-hambatan yang masih dihadapi. Hasil refleksi ini kemudian digunakan untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus II.
2. Tindakan II
Tindakan II berupa implementasi serangkaian kegiatan pembelajaran yang telah direvisi untuk mengatasi masalah pada siklus I yang belum tuntas. Selama proses belajar pada siklus kedua ini juga akan dilakukan observasi menyangkut aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
3. Refleksi II
Refleksi II juga dilakukan oleh guru bersama siswa bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pelaksanaan tindakan pada siklus II dengan jalan mengidentifikasi baik kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh maupun kekurangan-kekurangan atau hambatan-hambatan yang masih dihadapi.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut dapat disimpulkan berhasil tidaknya keseluruhan tindakan implementasi pembelajaran di dalam kelas terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Apabila pada siklus II tujuan PTK sudah dapat tercapai, maka tidak perlu dilanjutkan siklus berikutnya.

Tetapi apabila tujuan belum tercapai, maka perlu dilanjutkan siklus berikutnya. Kemudian, setelah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak hasil refleksi tersebut digunakan untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus III.

Guru dapat membuat jurnal atau catatan seluruh kegiatan PTK yang telah dilakukannya. Catatan tersebut dapat digunakan untuk menyusun suatu karya ilmiah yang dapat disebarluaskan menjadi suatu inovasi, dan dapat dimanfaat-kan oleh guru-guru lainnya dalam melaksanakan PTK.

Baca selengkapnya Waroeng PakDe Blog's: Karya Ilmiah

Tuesday, 8 July 2008

Penelitian Tindakan Kelas (bagian-1)

Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.


PTK memiliki karakteristik sebagai berikut.

1.javascript:void(0)
Masalah berawal dari guru
2.
Tujuannya memperbaiki pembelajaran
3.
Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian
4.
Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran
5.
Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.


Mengapa guru dianggap paling tepat untuk melakukan PTK ?

1.
Guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya
2.
Temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran
3.
Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya
4.
Interaksi guru-siswa berlangsung secara unik
5.
Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK di kelasnya.


Apa manfaat PTK bagi guru?

1.
Membantu guru memperbaiki mutu pembelajaran
2.
Meningkatkan profesionalitas guru
3.
Meningkatkan rasa percaya diri guru
4.
Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya


PTK sebagai salah satu metode penelitian terdapat beberapa keterbatasan, antara lain:

1.
Validitasnya yang masih sering disangsikan
2.
Tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampel sangat terbatas
3.
Peran guru yang bertindak sebagai pengajar dan sekaligus peneliti sering membuat sangat repot.


PTK dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan guru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan perilaku belajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi.


Keempat langkah utama dalam PTK yaitu merencanakan melakukan tindakan perbaikan, mengamati, dan refleksi merupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus selesai, barangkali guru akan menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama. Dengan demikian, berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali mengikuti langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua.


Bagaimana Merencanakan PTK?

Tahap perencanaan PTK terdiri atas mengidentifikasi masalah, menganalisis dan merumuskan masalah, serta merencanakan perbaikan.

1.
Mengidentifikasi dan menetapkan masalah

Selama mengajar kemungkinan guru menemukan berbagai masalah, baik masalah yang bersifat pengelolaan kelas, maupun yang bersifat instruksional. Meskipun banyak masalah, ada kalanya guru tidak sadar kalau dia mempunyai masalah. Atau masalah yang dirasakan guru kemungkinan masih kabur sehingga guru perlu merenung atau melakukan refleksi agar masalah tersebut menjadi semakin jelas. Oleh karena itu, supervisor perlu mendorong guru menemukan masalah atau dapat juga guru memulai dengan suatu gagasan untuk melakukan perbaikan kemudian mencoba memfokuskan gagasan tersebut. Untuk melakukan hal ini, guru dapat merenungkan kembali apa yang telah dilakukan. Jika guru rajin membuat catatan pada akhir setiap pembelajaran yang dikelola-nya, maka ia akan dengan mudah menemukan masalah yang dicarinya. Atau agar mampu merasakan dan mengungkapkan adanya masalah, maka seorang guru dituntut jujur pada diri sendiri dan melihat pembelajaran yang dikelolanya sebagai bagian penting dari dunianya. Setelah mengetahui permasalahan, selanjutnya melakukan analisis dan merumuskan masalah agar dapat dilakukan tindakan.

Contoh : permasalahan yang dihadapi oleh Pak Anton, yaitu rendahnya motivasi sebagian besar siswa untuk menjawab pertanyaan atau siswa sering tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
2.
Menganalisis dan merumuskan masalah

Sebenarnya secara tidak sadar guru telah melakukan PTK, yakni ketika guru melakukan evaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan tindak lanjutnya. Jika masalah sudah ditetapkan, maka masalah ini perlu dianalisis dan dirumuskan. Tujuannya adalah agar paham akan hakikat masalah yang dihadapi, terutama apa yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut. Untuk mengetahui penyebabnya, masalah ini harus dianalisis, dengan mengacu kepada teori dan pengalaman yang relevan.

Misalnya, untuk menganalisis penyebab permasalahan yang dihadapi oleh Pak Anton, guru dapat mengacu kepada teori keterampilan bertanya, dan mencari penyebabnya dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
1. Apakah rumusan pertanyaan yang dibuat guru cukup jelas dan singkat ?
2. Apakah guru memberikan waktu untuk berpikir sebelum meminta siswa menjawab ?

Jika setelah dianalisis, kedua pertanyaan di atas dijawab dengan ya, tentu harus dicari penyebab lainnya, misal : apakah penjelasan guru cukup jelas bagi siswa, apakah bahasa yang digunakan guru mudah dipahami, dan apakah ketika menjelaskan guru memberikan contoh-contoh.

Jika umpamanya kedua pertanyaan di atas dijawab tidak, maka kita sudah dapat jawaban sementara, yaitu penyebab siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru adalah karena pertanyaan yang diajukan guru tidak jelas dan sering panjang dan berbelit-belit, serta guru tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir. Jika ini yang dianggap sebagai penyebab, maka guru dapat merencanakan tindakan perbaikan, yaitu dengan menyusun pertanyaan tersebut secara cermat, serta berusaha memberikan waktu untuk berpikir sebelum

meminta siswa menjawab pertanyaan.

1.
Merencanakan tindakan perbaikan

Berdasarkan rumusan masalah (juga mencakup penyebab timbulnya masalah), guru mencoba mencari cara untuk memperbaiki atau mengatasi masalah tersebut. Dengan perkataan lain, dalam langkah ini, guru merancang tindakan perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Untuk merancang suatu tindakan perbaikan, guru dapat :

(1) mengacu kepada teori yang relevan,

(2) bertanya kepada ahli terkait, dan

(3) berkonsultasi dengan supervisor.

Ahli terkait mungkin ahli pembelajaran, mungkin pula ahli bidang studi atau pembelajaran bidang studi. Rencana tindakan perbaikan dituangkan dalam rencana pembelajaran.

Mari kita ambil kasus Pak Anton, yaitu masalah pertanyan guru yang tidak terjawab oleh siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa pertanyaan yang disusun guru terlampau panjang dan kurang jelas. Di samping itu, guru sering langsung meminta jawaban setelah mengajukan pertanyaan, dan kadang-kadang langsung mengarahkan pertanyaan ini pada siswa tertentu, sehigga siswa yang lain tidak memperhatikan pertanyaan tersebut. Akibatnya, hampir selalu pertanyaan tidak terjawab dan Pak Anton sering harus menjawab pertanyaannya sendiri atau melupakan pertanyaan tersebut.

Dari hasil analisis tersebut, penyebab pertanyaan Pak Anton yang tidak terjawab adalah:

* Pertanyaan Pak Anton terlampau panjang dan tidak jelas
* Pak Anton tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan
* Pak Anton sering mengajukan pertanyaan dengan menunjuk kepada siswa tertentu.

Apabila dikaji secara cermat ternyata ketiga penyebab tersebut berkaitan dengan pembelajaran, dalam hal ini keterampilan dasar mengajar, yaitu keterampilan bertanya.

Oleh karena itu, tindakan perbaikan yang harus dilakukan guru adalah meningkatkan keterampilan bertanya. Tindakan perbaikan ini kita cantumkan dalam rencana pembelajaran yang kita gunakan dalam mengajar. Satu hal yang sangat perlu kita perhatikan adalah bahwa PTK dilakukan dalam pembelajaran biasa, tidak ada kelas khusus untuk melakukan PTK karena pada hakikatnya PTK dilakukan oleh guru sendiri di kelasnya sendiri.

Baca selengkapnya Waroeng PakDe Blog's: Karya Ilmiah

Entri Populer